Akreditasi Sistem Informasi

Lama saya tidak posting di blog ini. Kenapa ? Hi..hi…saya lupa passwordnya dan baru ketemu sekarang. Dan kali ini saya ingin memberi kabar gembira kepada segenap civitas akademika STT Bina Tunggal, khususnya jurusan Sistem Informasi. Mohon informasi ini juga diteruskan ke tetangga, temen kantor, dll, yang pengen kuliah di STT Bina Tunggal.

Apa sih informasinya ? Penting banget kayaknya ? Yup, so pasti.

Setelah melalui proses perjuangan yang panjang, akhirnya, beberapa program studi di STT Bina Tunggal meraih akreditasi. Untuk jurusan Mesin dan Elektro, berarti re-akreditasi. Program Studi Teknik Elektro S1, Teknik Mesin S1 dan Sistem Informasi, berhasil meraih akreditasi dengan peringkat C. Yaaa…h C doank ! Nanti dulu, jangan comment dulu.

Hampir semua PTS di Bekasi juga memperoleh nilai C. Hal ini disebabkan, karena memang pihak Dikti, menaikkan level atau persyaratan-persyaratannya. Misalnya untuk jumlah dosen tetap yang harus S2.

Yang jelas, kita patut bersyukur dengan pencapaian kita saat ini. Dan, jangan lupa, mari kita bersama-sama saling bahu membahu untuk meraih yang lebih baik 5 tahun lagi. Ya, 5 tahun lagi, 2019.

Temen-temen bisa cek status akreditasi ini dengan cara berikut :

1. Akses ke http://ban-pt.kemdiknas.go.id/direktori.php

2. Masukkan pada isian Nama Perguruan Tinggi dengan “Bina Tunggal”. Akan tampil seperti di bawah.

Akreditasi

OK. Demikian laporan dari saya.

 

Yakub, S.Kom

 

Udah S.Kom lho….buruan yang belum…..

 

Terima kasih

Subnetting – Memecah Network Melalui Subnetmask

Kali ini kita akan membahas sedikit mengenai subnetting. Dengan subnetting, kita dapat menentukan jumlah host yang akan digunakan di dalam jaringan. Apa manfaat menentukan banyaknya host di dalam suatu jaringan? Banyak, salah satunya adalah mengefisiensikan penggunaan resource yang digunakan untuk membroadcast ke jaringan. Bila kita hanya punya 10 host, tapi subnetmask kita tidak kita set untuk hanya 10 host, maka paket data yang masuk ke jaringan akan dibroadcast ke seluruh alamat IP (host), walaupun host itu pada kenyataannya tidak pernah ada. Oleh karena itu, maka kita perlu menggunakan subnetting untuk mengefisiensikan penggunaan bandwitdh jaringan.

Bagaimana cara memecah network menjadi subnetwork? Salah satunya menggunakan subnetmask. Pada artikel ini, kita akan menggunakan IP v4 class C untuk contohnya. Untuk memulai, mari kita buktikan nilai default dari IP Class C. Untuk Class C bila tidak dibuat subnet, maka default subnetmasknya adalah 255.255.255.0 dan jumlah maksimal host/clientnya adalah 254 host. Mari kita buktikan dengan menghitungnya.

Misal sebuah network dengan alamat 192.168.0.0/24. Berapa subnetmasknya? Subnet dapat dilihat dari angka /24 berarti subnetnya adalah 24 bit. Karena alamat IP v.4 merupakan 32 bit dan dibagi menjadi 4 (setiap 8 bit dipisah menggunakan titik), jadi subnetnya adalah 255.255.255.0. Kok bisa? Mari kita sok tahu dikit.

IP = 32 bit = X.X.X.X
Setiap X mewakili 8 bit, bit = binary = nilai 0 atau 1
/24 berarti bit yang bernilai 1 ada 24 buah, ditulis dari kiri ke kanan
/24 = 11111111.11111111.11111111.00000000 = 255.255.255.0

NB: pada kenyataannya, /xx atau disebut prefix tidak pernah dituliskan saat kita mengonfigurasi IP untuk komputer. Karena komputer sudah dapat menentukan prefix secara otomatis menggunakan subnetmask. Misal, kita akan mengeset IP untuk client/host pada network 192.168.0.0/24, maka yang perlu kita lakukan adalah menentukan alamat IP untuk host (192.168.0.1 – 192.168.0.254), subnetmask default (255.255.255.0), dan alamat default gateway serta alamat DNS servernya saja. Kita tidak perlu menuliskan IP 192.168.0.x/24.

Kembali ke pokok bahasan, setelah diketahui subnet masknya, kita dapat menghitung jumlah hostnya dengan cara:
Jumlah Host = 2n – 2
Kenapa dikurangi 2? Karena digunakan untuk alamat network (biasanya host ke-0, untuk contoh ini maka alamat network = 192.168.0.0) dan alamat broadcast (biasanya host terakhir, untuk contoh ini maka alamat broadcast = 192.168.0.255). Berapa nilai n? n = banyaknya angka 0 pada subnetmask (angka 0 dihitung pada nilai binary bukan desimal). Pada contoh di atas, berarti n = 8. Jadi jumlah host adalah 28 – 2 = 256 – 2 = 254 host.

Jadi jaringan dengan subnetmask 255.255.255.0 mempunyai jumlah host sebanyak 254 host. Pada tahap ini, terbukti bahwa IP class C bila tidak disubnet, maka akan mempunyai jumlah host sebanyak 254 host. Lalu bagaimana bila ternyata hanya terdapat 10 host saja? Seperti pernyataan yang terdapat di paragraf pertama, akan terjadi banyak sekali pemborosan. Di sinilah kegunaan subnetting.

Bila kita hanya mempunyai 10 host, maka kita dapat menggunakan subnetmask 255.255.255.240 untuk mengefisiensikan jaringan kita. Bagaimana cara mengetahuinya? Mari kita bersama-sama menghitungnya.

Jumlah Host = 2n – 2
10 <= 2n – 2
n = 4, diperoleh dari 2n – 2 yang mendekati 10

n mewakili host portion pada subnetmask. Karena host portion yang dipakai hanya 4, maka sisanya (4 bit) akan dipakai sebagai subnet portion. Seperti yang telah kita ketahui, n merupakan jumlah angka 0 dari subnetmask, dihitung/ditulis dari kanan. Dengan demikian, subnetmask subnetwork yang baru adalah 255.255.255.11110000 = 255.255.255.240.

NB: subnetmask dibagi menjadi 2 bagian, yaitu subnet portion (diwakili dengan angka 1 pada nilai binary) dan host portion (diwakili dengan angka 0 pada nilai binary). Untuk IP class C, nilai default subnet portionnya adalah 24 bit, dan host portionnya adalah 8 bit.

Dengan subnetmask 255.255.255.240, berapakah jumlah host maksimal dan berapa jumlah subnet yang dapat dibuat? Untuk menghitung jumlah host, digunakan rumus 2n – 2, n kecil mewakili jumlah angka 0 pada host portion. Sedang untuk menghitung jumlah subnet, kita dapat menggunakan rumus 2N – 2 (menurut cisco), N mewakili jumlah angka 1 pada host portion.

NB: untuk mencari jumlah subnet, ada yang menggunakan rumus 2N saja tanpa dikurangi 2. Hanya cisco yang mengurangkan dengan dua, karena secara default router cisco tidak menggunakan subnet ke-0 (kalau gak salah istilahnya “no ip subnet zero”) dan subnet yang terakhir digunakan untuk cadangan. Aku kurang paham tentang masalah ini.

Untuk contoh ini, maka klasifikasi jaringan yang baru adalah
Jumlah host/subnet = 2n – 2 = 24 – 2 = 14 host
Jumlah subnet = 2N – 2 = 24 – 2 = 14 subnet

Setelah kita menggunakan subnetmask 255.255.255.240, maka jaringan kita telah terbagi menjadi 14 subnet dengan jumlah maksimal host per subnet adalah 14 host. Lha kan Cuma ada 10 host doang? Ya gak papalah, memboroskan bandwidth untuk 4 host, masih lebih irit bila dibandingkan dengan 244 host, kan? Betul gak sih?

Klasifikasi jaringan 192.168.0.0/28
Subnet #0 (defaultnya tidak digunakan pada router cisco)
Alamat network = 192.168.0.0/28
Alamat host = 192.168.0.1/28 – 192.168.0.14/28
Alamat broadcast = 192.168.0.15/28

Subnet #1
Alamat network = 192.168.0.16/28
Alamat host = 192.168.0.17/28 – 192.168.0.30/28
Alamat broadcast = 192.168.0.31/28

Dan seterusnya…

NB: prefik /28 diperoleh dari default value (24) ditambah dengan jumlah host portion yang digunakan untuk subnet portion (4).

Sumber :

http://rudyhartadi.web.id/tutorial/jaringan/subnetting-memecah-network-melalui-subnetmask.html

Mahasiswa Jurusan Sistem Informasi perlu bisa memprogram?

Pak, apakah bapak punya judul TA yang tidak perlu memprogram? Pertanyaan seperti ini sudah terlontar ke saya dari mahasiswa Jurusan Sistem Informasi. Saya hanya bisa menjawab sambil tersenyum bahwa saya masih belum punya judul TA seperti itu.

Keputusan Jurusan Sistem Informasi  untuk “memproklamirkan”  bahwa kemampuan memprogram bukan kopetensi utama bagi lulusan Jurusan Sistem Informasi , sering disalah tafsirkan oleh sebagian mahasiswa Jurusan Sistem Informasi menjadi seolah-olah mahasiswa Jurusan Sistem Informasi tidak perlu bisa memprogram. Programming skill bukan kompetensi utama dari lulusan Jurusan Sistem Informasi melainkan kemampuan dasar (basic skill) yang harus dikuasai oleh setiap lulusan Jurusan Sistem Informasi. Adanya standarisasi nasional untuk semua program studi(prodi) yang berbasiskan IT(Information Technology) dengan nomenklatur(penamaan) yang ditetapkan DIKTI (Direktorat Perguruan Tinggi, Kementrian Pendidikan Nasional) sebagai prodi dengan nama Sistem Informasi, Teknik Informatika, dan Sistem Komputer (SI, IF, SK), menyebabkan kemampuan memprogram tidak lagi menjadi kompetisi utama melainkan menjadi kemampuan dasar (karena semua prodi tadi memiliki kemampuan ini).

Analogi yang sesuai adalah seperti kemampuan menggambar di Jurusan Arsitektur. Menggambar bukan kompetensi utama di Arsitektur tidak seperti di jurusan Desain Produk, sebagai bukti Jurusan Arsitektur tidak pernah mensyaratkan kemampuan menggambar sebagai syarat masuknya (seperti Jurusan Sistem Informasi yang juga tidak pernah mensyaratkan kemampuan memprogram sebagai syarat masuknya) . Berbeda dengan jurusan Desain Produk yang mensyaratkan kemampuan menggambar sebagai syarat masuknya (karena itu Jurusan Desain Produk melaksanakan tesnya sendiri, terpisah dengan tes SNMPTN yang dilakukan secara nasional). Tetapi apakah ada lulusan Jurusan Arsitektur yang tidak bisa menggambar? Sama seperti, apakah layak kalau ada lulusan Jurusan Sistem Informasi yang tidak bisa memprogram?

Sebagai jurusan yang memiliki visi ke depan dan bertekad untuk go internasional, kemampuan memprogram sudah tidak lagi diletakkan sebagai kompetensi utama. Karena Jurusan Sistem Informasi berharap, lulusannya mampu bersaing secara global sehingga lulusan Jurusan Sistem Informasi harus memiliki kompetensi utama yang menunjang persaingan global ini. Namun kompetensi utama ini menjadi tidak berarti jika basic skill yang harus ada tidak dikuasai (seperti seorang arsitek yang bisa mendesain rumah yang bagus tapi tidak bisa menggambar). Kemampuan memprogram adalah basic skill yang harus dikuasai oleh seorang lulusan prodi yang bebasiskan IT, sebelum menapak ke jenjang kompetensi yang lebih tinggi. Ia merupakan sebuah fondasi utama yang menunjang kompetensi-kompetensi yang ada diatasnya.

Munculnya pertanyaan di paragraf pertama pada artikel ini juga menimbulkan berbagai macam pertanyaan dalam benak saya seperti : “Apakah sudah tidak ada rasa bangga menjadi mahasiswa sebuah program studi berbasiskan IT, sehingga merasa tidak perlu memprogram?”, “Apakah mahasiswa hanya ingin enaknya saja, ingin dapat gelar Sarjana Komputer, tapi tidak ingin memikul konsekuensi dari gelar tersebut?”.

Sebagai penutup, saya ingin mengajak diri saya dan semuanya untuk merenungkan kembali pertanyaan ini: “Apakah pantas, ada seorang Sarjana Komputer tapi tidak bisa memprogram?”. Semoga hasil renungan bisa membimbing kita semua untuk melangkah dengan mantap menuju keberhasilan dan kesuksesan Jurusan Sistem Informasi  yang kita cintai bersama-sama.

*by Dr. Eng. Febriliyan Smopa, S. Kom.,M. Kom.
*penulis adalah seorang dosen di salah satu universitas negeri terkenal di indonesia.
*dikutip dari majalah GENGSI volume 04.NO1.2010 di rubric OPINI

Perbedaan antara E-COMMERCE dengan E-BUSINESS

Internet telah membuat interaksi bisnis menjadi multi-aspek. Sekarang orang bisa melakukan bisnis, seperti membeli sesuatu, bertransaksi, dan menjalankan fungsi-fungsi bisnis melalui internet. Konsumen dan pemilik/pengelola bisnis dapat mendapatkan dan melakukan apa yang mereka inginkan tanpa harus meninggalkan beranjak dari tempat duduk, selama terhubung dengan internet.

Istilah e-business dan e-commerce seringkali terlihat dan digunakan untuk proses yang sama. Namun demikian, meskipun berhubungan, keduanya memiliki arti yang berbeda. Awalan “e” berarti “elektronik”, yang berarti kegiatan atau transaksi yang digunakan tanpa pertukaran atau kontak fisik. Transaksi diadakan secara elektronik atau digital, sesuatu dibuat menjadi mungkin dengan pesatnya perkembangan komunikasi digital.

 

E-commerce berarti transaksi bisnis melalui internet di mana pihak-pihak yang terlibat melakukan penjualan atau pembelian. Transaksi yang dilakukan dalam e-commerce pada dasarnya melibatkan pengalihan (transfer) atau penyerahterimaan (handing over) kepemilikan dan hak atas produk atau jasa.

 

Secara teknis, e-commerce hanya merupakan bagian dari e-business karena, menurut definisi, e-business adalah semua transaksi bisnis online, termasuk penjualan secara langsung kepada konsumen (e-commerce), transaksi dengan produsen dan pemasok, dan interaksi dengan mitra bisnis. Pertukaran informasi via database terpusat juga dilakukan dalam e-commerce. Fungsi-fungsi bisnis hanya terbatas pada sumber daya teknologi.

 

E-commerce pada prinsipnya melibatkan pertukaran uang dalam transaksi. E-business, karena lebih luas, tidak terbatas pada transaksi yang bersifat keuangan (monetary). Semua aspek dalam bisnis, seperti pemasaran, perancangan produk, manajemen pemasokan, dsb., tercakup

 

E-business lebih mengenai pembuatan produk besar, ide kreatif dan pemberian layanan yang bermutu, perencanaan pemasaran produk dan pelaksanaannya. Jadi, tentu saja, e-commerce merupakan bagian takterpisahkan dari proses e-business, namun dalam kerangka terbatas, e-commerce merupakan kegiatan menjual dan membeli.

 

Ringkasan:

1. E-business lebih luas dalam lingkup dan e-commerce hanya merupakan satu aspek atau satu bagian dari e-business.

2. E-commerce hanya mencakup transaksi bisnis seperti membeli dan menjual barang dan jasa melalui internet.

3. E-commerce pada prinsipnya melibatkan perdagangan uang sedangkan dalam e-business, transaksi uang tidak diperlukan.

4. E-business melibatkan pemasaran, perancangan produk, evaluasi layanan konsumen, dll.

 

Sumber : http://www.differencebetween.net/business/difference-between-e-business-and-e-commerce/

 

Jaringan Komputer

Jaringan Komputer adalah sebuah system yang terdiri dari atas computer dan perangkat lain nya yang bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan dari jaringan computer adalah :

  • Membagi sumber daya, Contohnya berbagi pemakaian CPU, Harddisk, Memory
  • Komunikasi, Contohnya Surat elektronik, instant messaging, chatting
  • Akses Informasi, Contohnya Browsing

Agar dapat mencapai tujuan yang sama, setiap bagian dari jaringan komputer meminta dan memberikan layanan (service). Pihak yang meminta layanan disebut klien (client) dan yang memberikan layanan disebut pelayan (server). Arsitektur ini disebut dengan sistem client-server, dan digunakan pada hampir seluruh aplikasi jaringan komputer.

Jenis-Jenis Jaringan Komputer

1. Local Area Network (LAN)

Local Area Network biasa disingkat LAN adalah jaringan komputer yang jaringannya hanya mencakup wilayah kecil, seperti jaringan komputer kampus, gedung, kantor, dalam rumah, sekolah atau yang lebih kecil. Saat ini, kebanyakan LAN berbasis pada teknologi IEEE 802.3 Ethernet menggunakan perangkat switch, yang mempunyai kecepatan transfer data 10, 100, atau 1000 Mbit/s. Selain teknologi Ethernet, saat ini teknologi 802.11b (atau biasa disebut Wi-fi) juga sering digunakan untuk membentuk LAN. Tempat-tempat yang menyediakan koneksi LAN dengan teknologi Wi-fi biasa disebut hotspot.

Pada sebuah LAN, setiap node atau komputer mempunyai daya komputasi sendiri, berbeda dengan konsep dump terminal. Setiap komputer juga dapat mengakses sumber daya yang ada di LAN sesuai dengan hak akses yang telah diatur. Sumber daya tersebut dapat berupa data atau perangkat seperti printer. Pada LAN, seorang pengguna juga dapat berkomunikasi dengan pengguna yang lain dengan menggunakan aplikasi yang sesuai.

Berbeda dengan Jaringan Area Luas atau Wide Area Network (WAN), maka LAN mempunyai karakteristik sebagai berikut :

1. Mempunyai pesat data yang lebih tinggi
2. Meliputi wilayah geografi yang lebih sempit
3. Tidak membutuhkan jalur telekomunikasi yang disewa dari operator telekomunikasi

Biasanya salah satu komputer di antara jaringan komputer itu akan digunakan menjadi server yang mengatur semua sistem di dalam jaringan

2. Metropolitant Area Network (MAN)

Metropolitan area network atau disingkat dengan MAN adalah suatu jaringan dalam suatu kota dengan transfer data berkecepatan tinggi, yang menghubungkan berbagai lokasi seperti kampus, perkantoran, pemerintahan, dan sebagainya. Jaringan MAN adalah gabungan dari beberapa LAN. Jangkauan dari MAN ini antar 10 hingga 50 km, MAN ini merupakan jaringan yang tepat untuk membangun jaringan antar kantor-kantor dalam satu kota antara pabrik/instansi dan kantor pusat yang berada dalam jangkauannya.

3. Wide Area Network (WAN)

WAN adalah singkatan dari istilah teknologi informasi dalam bahasa Inggris: Wide Area Network merupakan jaringan komputer yang mencakup area yang besar sebagai contoh yaitu jaringan komputer antar wilayah, kota atau bahkan negara, atau dapat didefinisikan juga sebagai jaringan komputer yang membutuhkan router dan saluran komunikasi publik.

WAN digunakan untuk menghubungkan jaringan lokal yang satu dengan jaringan lokal yang lain, sehingga pengguna atau komputer di lokasi yang satu dapat berkomunikasi dengan pengguna dan komputer di lokasi yang lain.

Berdasarkan fungsi : Pada dasarnya setiap jaringan komputer ada yang berfungsi sebagai client dan juga server. Tetapi ada jaringan yang memiliki komputer yang khusus didedikasikan sebagai server sedangkan yang lain sebagai client. Ada juga yang tidak memiliki komputer yang khusus berfungsi sebagai server saja. Karena itu berdasarkan fungsinya maka ada dua jenis jaringan komputer:

a. Client-server

Yaitu jaringan komputer dengan komputer yang didedikasikan khusus sebagai server. Sebuah service/layanan bisa diberikan oleh sebuah komputer atau lebih. Contohnya adalah sebuah domain seperti http://www.detik.com yang dilayani oleh banyak komputer web server. Atau bisa juga banyak service/layanan yang diberikan oleh satu komputer. Contohnya adalah server jtk.polban.ac.id yang merupakan satu komputer dengan multi service yaitu mail server, web server, file server, database server dan lainnya.

b. Peer-to-peer

Yaitu jaringan komputer dimana setiap host dapat menjadi server dan juga menjadi client secara bersamaan. Contohnya dalam file sharing antar komputer di Jaringan Windows Network Neighbourhood ada 5 komputer (kita beri nama A,B,C,D dan E) yang memberi hak akses terhadap file yang dimilikinya. Pada satu saat A mengakses file share dari B bernama data_nilai.xls dan juga memberi akses file soal_uas.doc kepada C. Saat A mengakses file dari B maka A berfungsi sebagai client dan saat A memberi akses file kepada C maka A berfungsi sebagai server. Kedua fungsi itu dilakukan oleh A secara bersamaan maka jaringan seperti ini dinamakan peer to peer.

Berdasarkan topologi jaringan : Berdasarkan [topologi jaringan], jaringan komputer dapat dibedakan atas:

1. Topologi bus
2. Topologi bintang
3. Topologi cincin
4. Topologi Pohon (Hirarkis)
5. Topologi Mesh (Acak)

Komponen Dasar Jaringan Komputer

Untuk dapat membangun sebuah jaringan, ada beberapa komponen dasar yang harus dipenuhi yaitu:

Komponen Fisik

a. Unit Komputer

Sediakan minimum 2 unit computer atau beberapa computer sesuai kebutuhan, Komputer-komputer ini nanti nya yang bertindak sebagai server dan ada juga yang berperan sebagai workstation

b. Kartu Jaringan atau LAN Card ( Network Interface Card)

Secara kasat mata LAN Card dapat dikenali dengan mudah dari bentuknya yang umumnya memiliki port (lubang colokan) seperti yang terdapt pada telepon namun sedikit lebih besar. Komponen ini biasa nya sudah terpasang secara onboard pada beberapa computer yang dijual dipasaran saat ini, jika belum berarti Anda harus menambahkannya dengan cara menanamnya pada slot PCI/ISA dibagian mainboard computer Anda..

c. Kabel Jaringan

kabel dalam sebuah jaringan digunakan sebagai penghubung. Meskipun sekarang sudah ada teknologi jaringan tanpa kabel (wireless) namun kabel masih sering digunakan karena mudah dalam pengoperasiannya. Ada beberapa macam tipe kabel yang biasanya digunakan untuk membangun sebuah jaringan antara lain:

c.1 Kabel Twisted Pair

Kabel ini terdiri dari beberapa kabel yang saling melilit. Adapun dua jenis kabel yang termasuk dalam tipe kabel ini yaitu Shielded Twisted Pair (STP) dengan lapisan aluminium foil dan Unshielded Twisted Pair (UTP)

c.2 Kabel Coaxial

Tampilan fisik kabel ini terdiri dari kawat tembaga sebagai inti yang dilapisi oleh isolator dalam lalu dikelilingi oleh konduktur luar kemudian dibungkus dengan bahan semacam PVC sebagai lapisan isolator luar.

c.3 Fiber

Kabel fiber optic terdiri atas inti serat kaca dan dibungkus lapisan luar seperti kabel-kabel umumnya

d. Konektor

Konektor digunakan sebagai sarana penghubung antara kabel dengan colokan LAN card yang ada di CPU computer Anda. Jenis konektor ini di sesuaikan dengan tipe kabel yang digunakan misalnya rj-45 berpasangan dengan kabel UTP/STP, konektor BNC/T berpasangan dengan kabel coaxial sedangkan tipe kabel fiber optic digunakan konektor ST.

e. Tang Kriping

Tang kriping Berfungsi untuk menjepit kabel dengan konektor yang telah terpasang sehingga tidak mudah lepas pada saat instalasi. Penggunaan tang ini disesuai kan dengan jebis kabel yang akan anda gunakan untuk membangun jaringan.

f. Hub

Hub adalah komponen jaringan yang memiliki colokan (port-port). Umumnya hub memiliki jumlah port mulai dari 4, 8, 16, 24 sampai 32 plus 1 port (uplink) untuk menghubungkan ke server atau ke hub lain. Hub digunakan untuk menyatukan kabel-kabel network dari tiap-tiap workstation, server atau perangkat lain.

g. Bridge dan Switch

Bridge digunakan untuk menghubungkan beberapa jaringan yang terpisah walaupun menggunakan media penghubung dan model atau topologi berbeda. Jadi mirip dengan jembatan pada kehidupan sehari-hari kita. Sedangkan Switch bentuknya mirip dengan hub, bedanya switch lebih pintar karena mampu menganalisa data yang dilewatkan padanya sebelum dikirim ketujuan. Selain itu juga ia memiliki kecepatan transfer data dari server ke workstation atau sebaliknya.

h. Router

Router memiliki kemampuan untuk menyaring atau memfilter data yang lalu lalang di jaringan berdasarkan aturan atau protocol tertentu. Seperti bridge, router juga dapat digunakan untuk menghubungkan beberapa jaringan model LAN bahkan WAN.

Komponen Non Fisik

Selain komponen fisik yang telah dijelaskan sebelumnya, ada juga komponen non fisik bila kita akan belajar membangun sebuah jaringan, antara lain :

a. Operating Sistem untuk Komputer

Ada banyak operating system yang dapat Anda gunakan untuk membangun jaringan computer. Untuk computer server biasanya Microsoft Windows NT 4 Server, Microsoft Windows 2000 Server, Microsoft Windows 2003 Server, Novell Netware serta Linux. Sedangkan untuk client/workstation Anda dapat menggunakan Microsoft Windows 98, ME, 2000 Profesional, XP dan distro linux.

b. Protokol Jaringan

Protokol Jaringan adalah aturan-aturan yang digunakan dalam jaringan sehingga computer-komputer anggota jaringan dan computer berbeda platform dapat saling berkomunikasi. TCP/IP (Tranmission Control Protokol/Internet Protokol) adalah protocol.

Teknik Pengkabelan

Seperti yang telah dijelaskan pada bab 3.3 sebelumnya, ada beberapa tipe kabel yang dapat digunakan untuk membangun jaringan computer atau dalam hal ini LAN. Namun menurut penulis dengan alas an relatife lebih mudah dalam pengadaan kabel, murah dan sederhana dalam proses instalasi serta umum digunakan pada saat ini, maka pilihan jatuh pada tipe kabel Twisted Pair jenis Unshielded Twisted Pair (UTP).

Kabel UTP terdiri dari 8 buah kabel halus yang saling melilit menjadi 4 pasang. Ke empat pasang kabel tersebut adalah :

* Pasangan kabel warna hijau dengan Putih lease Hijau
* Pasangan kabel warna Orange dengan Putih lease Orange
* Pasangan kabel warna Biru dengan Putih lease Biru
* Pasangan kabel warna coklat dengan Putih lease Coklat

Kategori Kabel UTP

Cat 1 : Digunakan untuk perangkat komunikasi, seperti kabel telephon.

Cat 2 : Kecepatan transfer data mencapai 4 Megabits per second.

Cat 3 : Biasanya digunakan untuk topologi token ring dengan kecepatan transfer data mencapai 10 Mbps.

Cat 4 : Kecepatan transfer data mencapai 16 Mbps

Cat 5 : Kecepatan transfer data mencapai 100 Mbps

Cat 5e : Kecepatan transfer data mencapai 100 Mbps – 1 Gigabits.

Cat 6 : Kecepatan transfer data hingga 2,5 Gigabit Ethernet dalam jarak 100 Meter atau 10 Gigabits dalam jarak 25 Meter.

Standarisasi Kabel UTP

Pemasangan urutan Kabel UTP umumnya mengikuti aturan standart international yaitu EIA/TIA 568A dan EIA/TIA 568B. Untuk urutan EIA/TIA 568A urutan kabel nya adalah sebagai berikut :

Urutan ke 1 : Putih Hijau

Urutan ke 2 : Hijau

Urutan ke 3 : Putih Orange

Urutan ke 4 : Biru

Urutan ke 5 : Putih Biru

Urutan ke 6 : Orange

Urutan ke 7 : Putih Coklat

Urutan ke 8 : Coklat

Sedangkan urutan EIA/TIA 568B urutan kabelnya adalah sebagai berikut:

Urutan ke 1 : Putih Orange

Urutan ke 2 : Orange

Urutan ke 3 : Putih Hijau

Urutan ke 4 : Biru

Urutan ke 5 : Putih Biru

Urutan ke 6 : Hijau

Urutan ke 7 : Putih Coklat

Urutan ke 8 : Coklat

Tipe Pemasangan Kabel UTP

Ada 2 jenis tipe pemasangan kabel UTP pada konektor RJ-45 yaitu type straight dan tipe cross.

a. Tipe Straight

Tipe Straight artinya ujung kabel yang satu dengan ujung kabel yang lainnya memiliki urutan kabel yang sama sesuai dengan standart EIA/TIA 568B. Tipe ini digunakan untuk menghubungkan antara PC ke Switch, Router ke Switch, Router ke Hub dan PC ke Hub.

b. Tipe Cross

Pada tipe ini ujung kabel yang satu menggunakan urutan standart EIA/TIA 568A dan ujung yang satu nya lagi menggunakan urutan kabel TIS/EIA 568B dan digunkan untuk menghubungkan PC ke PC, Switch/Hub ke Switch/Hub, dan PC ke Router.

Sumber : www.apris.wordpress.com

Outline of Operations Management

Operations management is an area of management concerned with overseeing, designing, and redesigning business operations in the production of goods and/or services. It involves the responsibility of ensuring that business operations are efficient in terms of using as little resources as needed, and effective in terms of meeting customer requirements. It is concerned with managing the process that converts inputs (in the forms of materials, labor, and energy) into outputs (in the form of goods and/or services). The relationship of operations management to senior management in commercial contexts can be compared to the relationship of line officers to the highest-level senior officers in military science. The highest-level officers shape the strategy and revise it over time, while the line officers make tactical decisions in support of carrying out the strategy. In business as in military affairs, the boundaries between levels are not always distinct; tactical information dynamically informs strategy, and individual people often move between roles over time.

Operations traditionally refers to the production of goods and/or services separately, although the distinction between these two main types of operations is increasingly difficult to make as manufacturers tend to merge product and service offerings. More generally, operations management aims to increase the content of value-added activities in any given process. Fundamentally, these value-adding creative activities should be aligned with market opportunity (through marketing) for optimal enterprise performance.

According to the U.S. Department of Education, operations management is the field concerned with managing and directing the physical and/or technical functions of a firm or organization, particularly those relating to development, production, and manufacturing. Operations management programs typically include instruction in principles of general management, manufacturing and production systems, plant management, equipment maintenance management, production control, industrial labor relations and skilled trades supervision, strategic manufacturing policy, systems analysis, productivity analysis and cost control, and materials planning.Management, including operations management, is like engineering in that it blends art with applied science. People skills, creativity, rational analysis, and knowledge of technology are all required for success.

The origins of operations management can be traced back through cultural changes of the 18th, 19th, and 20th centuries, including the Industrial Revolution, the development of interchangeable manufacture, the Waltham-Lowell system, the American system of manufacturing, Fayolism, scientific management [3], the development of assembly line practice and mass production, industrial engineering, systems engineering, manufacturing engineering, operations research, the Toyota Production System, lean manufacturing, and Six Sigma. Combined, these ideas allow for the standardization of best practices balanced with room for further innovation through continuous improvement of production processes. Key features of these production systems are the departure from craft production to a more thorough division of labor and the transfer of knowledge from within the minds of skilled, experienced workers into the systems of equipment, documentation, and semiskilled workers, often with an average of less tenure and less experience. The disciplines of organizational studies, industrial and organizational psychology, program management, project management, and management information systems all ideally inform optimal operations management, although most smart people who work in the corporate world can empirically observe that the reality often falls far short of the ideal in ways that the market nevertheless rewards, based mostly on the fact that in markets, “good-enough-to-scrape-by” methods tend to defeat “proper” ones on cost. There is a strong tradition of recruiting operations managers simply by promoting the most effective workers, which does work, although its main systemic flaw is the Peter Principle. One of the reasons why competition doesn’t kill businesses that operate this way is that few operate in any more ideal way. Typically the Peter Principle is so pervasive throughout an industry that similarly afflicted businesses face a field of competitors who are more or less equally hobbled by it (the “same circus, different clowns” problem).

There are scores of people who can be viewed as thought leaders whose life’s work laid the foundations for operations management (only some of which have name recognition among the general population). A very cursory list would include (in approximate chronological order) Adam Smith, Jean-Baptiste Vaquette de Gribeauval, Louis de Tousard, Honoré Blanc, Eli Whitney, John H. Hall, Simeon North, Henri Fayol, Frederick Winslow Taylor, Henry Gantt, Henry Ford, Sakichi Toyoda, Alfred P. Sloan and Bill Knudsen of GM, Frank and Lillian Gilbreth, Tex Thornton and his Whiz Kids team, and W. Edwards Deming and the developers of the Toyota Production System (Taiichi Ohno, Shigeo Shingo, Eiji Toyoda, Kiichiro Toyoda, and others).

Whereas some influences place primary importance on the equipment and too often viewed people as recalcitrant impediments to systems (e.g., Taylor and Ford), over time the need to view production operations as sociotechnical systems, duly considering both humans and machines, was increasingly appreciated and addressed.

Historically, the body of knowledge stemming from industrial engineering formed the basis of the first MBA programs, and is central to operations management as used across diverse business sectors, industry, consulting and non-profit organizations.

Source : Wikipedia.org